Indonesia merupakan Negara berpenduduk Islam terbesar di dunia dengan pengaruh kejayaan kerajaan Islam lampau yang masih sangat membekas dalam ingatan masyarakatnya, hal ini mempermudah masuknya sejumlah gerakan revivalis Islam transnasional yang bahkan sebagiannya telah membesar sampai ke pelosok-pelosok di nusantara, di satu sisi cukup menggembirakan namun di sisi lain di khawatirkan mampu memecah belah umat menjadi klan-klan yang masing-masing bersikukuh dengan kebenarannya.

Secara garis besar gerakan adalah sekelompok atau suatu kumpulan orang yang mempunyai suatu target tertentu, mereka berusaha bergerak serta berupaya untuk mencapainya. Dengan demikian sebuah kelompok dapat disebut sebagai sebuah gerakan apabila mempunyai landasan tertentu, mempunyai tujuan atau target yang telah ditetapkan, mempunyai metode untuk meraih target.

Tepat kiranya jika kita membaca dinamika nasional selama tahun 2018 ini dari sudut pandang gerakan Islam yang kerap kali viral, seperti aksi damai yang dilakukan pada tanggal 04 bulan November tahun 2016, dan aksi lanjutan yang di lakukan pada tanggal 02 bulan desember 2016. Terlebih lagi ada kegiatan reuni 212 yang dilaksanakan pada tahun 2017 dan 2018 kemarin banyak sekali terjadi polemik dari sejumlah pihak. Ada yang mendukung untuk terselenggara namun tak sedikit pula yang juga menolaknya. Terlepas dari pro dan kontra dalam pelaksanaan reuni tersebut . Acara ini sangat menyedot banyak sekali perhatian rakyat Indonesia bahkan dunia.

Banyak juga yang ikut berperan dalam penyelenggaraan kegiatan aksi reoni 212 ini, merekapun berpendapat tentang terselenggaranya aksi ini bukan lagi tentang kepentingan agama, melainkan aksi yang tergabung dalam alumni 212 yang dikenal dengan reoni 212. Walaupun banyak yang menafsirkan aksi reoni 212 ini beranjak dari kasus gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahya Purnama yang pada saat itu dianggap melakukan penistaan agama, karena pak Ahok ini sudah dihukum aksipun sudah dianggap tidak perlu dilakukan lagi.

Sebagian besar yang setuju dan mendukung akan reoni 212 ini kebanyakan dari mereka berdalih bahwa walaupun tujuan awalnya sudah tercapai akan tetapi ada hal yang bersejarah dan perlu diulang setiap tahunnya untuk mengenang bahwa ada jutaan umat (orang) yang hadir dan berkumpul dalam satu tempat untuk melakukan aksi damai dan tertib tanpa merusak fasilitas Negara, juga pasti tujuan hal lainnya yaitu menjaga ukhwuah islamiyah dan menjalin silaturahimnya.

Hubungan Agama dan Negara

Islam tidak perlu menuntut negara atau pemerintah Indonesia menjadi negara atau pemerintah Islam. Baginya adalah substansi atau esensi-esensinya bukan bentuk formal yang sangat simbolis. Meskipun tidak ada keharusan dari Islam akan tetapi pembentukan sebuah negara menjadi suatu kewajiban umat manusia dalam bentuk demokratis, karena membentuk sebuah negara dapat memberikan beberapa prinsip yang dipakai dalam mewujudkan masyarakat yaitu pemerintahan yang adil dan demokratis dan organisasi pemerintah yang dinamis serta kedaulatan.

Dikutip dari Twitter @haikal_Hassan “Cuma mau ingetin: Menggunakan Islam untuk kepentingan politik itu HARAM, Menggunakan kekuatan politik untuk tegakkan Islam itu Wajib” – 10 Desember 2018 (22.16 WIB).

Saiful Mujani pun mengatakan di Indonesia agama justru menjadi “faktor penggerak demokratisasi: ia tidak hanya mendorong, tetapi juga menjadi salah satu faktor utama bagi aksi kolektif.” Meski demikian muslim di Indonesia tidak seperti di Turki yang mengintegrasikan ajaran Islam dengan sekularisme, bahkan istilah sekularisme dipahami sebagai sesuatu yang terlah diberlakukan oleh kolonialisme dan masa sesudahnya. Meskipun sulit untuk melakukan upaya redefinisi terhadap sekularisme, Muslim Indonesia lebih suka menggunakan istilah “simbiosis antra agama dan negara” atau “syariah transformasi”. Menurut Nurcholis Madjid, Islam selalu “beradaptasi dengan lingkungan budaya pemeluknya, kapan dan di mana pun.”