Peran Banten sebagai Pusat Perdagangan Global- Sahrul Fauzi

Pada abad ke- 16 Banten sudah menjadi tempat perdagangan internasional. Keberadaanya memiliki letak yang sangat strategis sebagai wilayah maritim, ditambah Banten memiliki hasil alam yang melimpah, maka tidak hayalnya jika banyak pedagang berdatangan dari berbagai penjuru Nusantara dan luar Nusantara. Hal ini bisa kita lihat dari para pedagang yang datang dari berbagai negara ke Banten diantaranya; Persia, Gujarat, Malabar, Keling, Pegu, Melayu, China, Turki, Arab, Abesinia, dan portugis. Berdasarkan catatan Tome Pires, yang pada tahun 1513 mengunjungi pelabuhan Banten, Banten adalah pelabuhan kedua terpenting setelah Sunda Kelapa. Salah satu hasil alamnya adalah pengekspor beras dan lada sehingga kita bisa mengetahui dari catatan Barbose yang menyebutkan bahwa dari pelabuhan Banten tiap tahunnya telah diekspor lada sebanyak seribu bahar.

Peranan Banten sebagai kota niaga mulai maju setelah penguasa Islam berdiri. Pada awalnya pusat pemerintahan berada di Banten Girang. Setelah Banten Girang dikuasai oleh Sunan Gunung Jati, maka pada tanggal 1 Muharam 933 H atau bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1526 pusat Kesultanan pun dipindahkan dari daerah pedalaman ke daerah pesisir yaitu Surosowan.3 Ini karena perintah Sunan Gunung Jati kepada anaknya yaitu Maulana Hasanudin. Dalam perspektif ekonomi, pelabuhan Banten merupakan urat nadi pelayaran dan perdagangan di Indonesia bagian selatan dan barat yang lebih mudah dikembangkan sebagai bandar pusat perdagangan. Dalam perkembangannya Kesultanan Banten semakin maju baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, maupun perdagangan.

Pada awal abad ke-17 M, Banten merupakan salah satu tempat perniagaan penting dalam jalur perniagaan internasional di Asia. Jalur perdagangan ini tidak hanya dari wilayah Asia, melainkan juga dari belahan Eropa yang terdiri atas Inggris, Denmark, Prancis, dan Belanda.4 Hal ini karena ditunjang dengan tata administrasi modern pemerintahan dan ke Pelabuhan sangat menunjang bagi tumbuhnya perekonomian masyarakat. Sultan Abufath Abdulfattah atau yang lebih dikenal dengan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), ahli strategi perang, berhasil membina mental para prajurit Banten dengan cara mendatangkan guru-guru agama dari Arab, Aceh, Makassar, dan daerah lainnya.Selain mengembangkan perdagangan, Sultan Ageng Tirtayasa gigih berupaya memperluas pengaruh dan kekuasaan ke wilayah Periangan, Cirebon, dan sekitar Batavia guna mencegah perluasan wilayah kekuasaan Mataram yang telah masuk sejak awal abad ke- 17 Selain itu, untuk mencegah pemaksaan monopoli perdagangan VOC yang tujuan akhirnya adalah penguasaan secara politik terhadap Banten.

Perkembangan Kesultanan Banten

Perkembangan Banten diawali dengan pemindahan pusat pemerintahan yang semula berada di Banten Girang dipindahkan ke Banten Lor (Surosowan). Pada tahun 1552 M Maulana Hasanuddin memproklamirkan Banten sebagai Kesultanan yang independen lepas dari Cirebon. Karena pada waktu itu pemerintahan Cirebon sedang mengalami kemunduran sehingga Maulana Hasanuddin menginginkan Banten lepas dari Cirebon. Ia memerintah selama 18 tahun yaitu tahun 1552-1570. Pelabuhan Banten menjadi ramai didatangi saudagar- saudagar dari luar negeri seperti: Tiongkok, Arab, Persia dan Gujarat. Mereka berdatangan guna melakukan kerja sama dalam perdagangan di Banten. Komoditi ekspor Banten sendiri adalah lada dan rempah-rempah lainnya. Selain melakukan kerjasama dengan luar negeri, Maulana Hasanuddin juga melakukan kerja sama dengan daerah lain di Nusantara seperti: Jepara, Makasar, Sumbawa, Karawang, Banjarmasin, Lampung, Indrapura, Solebar, Bengkulu, Nusa Tenggara dan Bali.

Pada masa pemerintahan Maulana Yusuf Kesultanan Banten benar-benar sudah memenuhi persyaratan sebagai sebuah kota dari segi arsitektur perkotaan dan menjadi daerah yang strategis. Penghasilan kerajaan bukan hanya dari biaya masuk dan keluar perniagaan saja, juga dari pasar. Struktur sosial masyarakat Banten yang sumber utamanya dari perniagaan menjadi faktor dari kemajuan Banten sehingga hubungan-hubungan politik dengan berbagai bangsa lain terjalin dengan lancar. Pada tahun 1580, Maulana Yusuf mangkat dan di makamkan di Pakalangan Gede dekat kampung Kasunyatan, sehingga setelah meninggal ia lebih dikenal sebagai pangeran panembahan Pekalangan Gede atau Pangeran Pasarean.

Setelah Maulana Yusuf meninggal dunia kekuasaan Banten digantikan oleh putranya yaitu Maulana Muhammad (1580-1595 M). Ia dikenal sebagai Sultan yang saleh. Untuk kepentingan penyebaran agama Islam ia banyak menulis kitab-kitab agama Islam yang kemudian dibagikan kepada yang membutuhkan. Untuk sarana ibadat, ia membangun masjid- masjid sampai ke pelosok-pelosok. Maulana Muhammad juga memperindah dan memperbaiki masjid Agung Banten. Tembok masjid dilapisi dengan porselen dan tiangnya dibuat dari kayu cendana. Akhir hidup Maulana Muhammad cukup tragis, bermula dari keinginan Pangeran Mas menjadi raja Palembang. Pangeran Mas adalah putra Pangeran pangiri, cucu Sunan Prawoto dari Demak. Ia membujuk Maulana Muhammad untuk membantunya dalam melawan tentara Palembang. Dengan 200 Kapal perang, Maulana Muhammad memimpin sendiri peperangan tersebut dengan di dampingi Mangkubumi dan Pangeran Mas. Maulana Muhammad meninggal dalam medan peperangan melawan Palembang, dalam usia 25 tahun dan dikenal dengan sebutan Prabu Seda ing Palembang atau Pangeran Seda ing Rana.18 Dan dikuburkan di serambi Masjid Agung Banten. Sepeninggal Maulana Muhammad, maka Pangeran Abdul Mufakhir yang baru berusia lima bulan naik tahta. Untuk menjalankan roda pemerintahan, maka ia dibimbing oleh Mangkubumi Jayanegara, seorang pejabat Istana yang lemah lembut dan bijaksana sampai Sultan Abdul Mufakhir dewasa dan siap menjalankan roda pemerintahan sendiri.

Di bawah ini nama-nama Raja/Sultan yang pernah memerintah di Banten dari masa Syarif Hidayatullah sampai Sultan Ageng Tirtayasa:

  1. Syarif Hidayatullah Susuhunan Gunung Jati 1525 .
  2. Maulana Hasanudin Panembahan Surosowan 1552.
  3. Maulana Yusuf Panembahan Pekalongan 1570.
  4. Maulana Muhammad Pangeran Ratu Banten 1580.
  5. Sultan Abdul Mufakhir Mahmud 1596.
  6. Sultan Abul Ma‟ali Ahmad Kenari 1647.
  7. Sultan Ageng Tirtayasa Abdul Fatah 1651.

Kisah Sultan Agung Tirtayasa Banten.

Sultan Ageng Tirtayasa adalah julukan terkenal yang diberikan kepada Sultan Abdul Fattah. Ayah Sultan Ageng Tirtayasa adalah Sultan Abdul Ma‟ali Ahmad bin Sultan Abdul Mufakhir bin Sultan Maulana Muhammad Nashrudin bin Sultan Maulana Yusuf bin Sultan Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah yang lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati Cirebon. Ayah dari Sultan Ageng Tirtayasa dikenal dengan sebutan Sultan Faqih, Sultan Kulon, Pangeran Anom, atau Pangeran Ratu. Gelar Sultan Ma‟ali Ahmad diterima pada tahun 1638 bersama ayahnya Sultan Abdul Fakhir Mahmud Abdul Khadir yang memerintah Banten sekitar tahun 1596-1651. Dari Sultan Mekah ketika utusannya datang di Banten dalam rangka kunjungan balasan. Jadi, Sultan Surya atau Sultan Ageng Tirtayasa adalah cucu dari Sultan Fakhir Mahmud Abdul Khadir. Ibu Sultan Ageng Tirtayasa ialah Ratu Marta Kusuma, salah seorang putri Pangeran Jayakarta. Saudara-saudara Sultan Ageng Tirtayasa yang seibu kandung Pangeran Surya ialah Ratu Kulon, Pangeran Kilen, Pangeran Lor, dan Pangeran Radja. Sedangkan saudara-saudaranya yang tidak seibu, yaitu dari Ratu Wetan, antara lain Pangeran Wetan, Pangeran Kidul, Ratu Inten, dan Ratu Tinumpuk.

Sejak muda Sultan sudah dikenal kalangan masyarakat sebagai salah seorang putra bangsawan yang gemar kepada kebudayaan. Hal itu senantiasa dibuktikan dengan ikut sertanya dalam permainan Raket dan permainan Dedewaan serta Sasaptonan. Permainan ini pada masa itu sangat digemari oleh kalangan bangsawan dan rakyat.29 Dalam cerita sejarah Banten disebutkan bahwa di antara istri-istri Sultan Ageng Tirtayasa ialah Nyai Gede dan Ratu Nengah. Nyai Ratu Gede adalah seorang putri penggawa yang karena kecantikannya dapat menarik perhatiannya. Sultan jatuh hati padanya pada waktu ada perayaan, di mana gadis itu adalah salah seorang pembawa alat perhiasan Kerajaan dalam upacara. Sedangkan istrinya yang bernama Ratu Nengah ialah putri Pangeran Kasunyatan. Perkawinan dengan istri keduanya itu dilakukan setelah istri pertamanya meninggal dunia. Di antara putra-putra Sultan Abdul Fattah yang mencapai pada usia dewasa ialah Pangeran Gusti dan Pangeran Purbaya. Pangeran Gusti juga terkenal pula dengan julukan Sultan Haji.

Masa Kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa.

Sultan Ageng Tirtayasa dilantik menjadi Sultan pada tahun 1651 M. Menggantikan kakeknya yang meninggal pada tahun itu juga. Seharusnya yang menjadi penggantinya adalah ayahnya. Tapi karena ayah Sultan Ageng Tirtayasa lebih dulu meninggal daripada kakeknya, maka secara otomatis kekuasaan digantikan oleh Sultan Ageng Tirtayasa.

Untuk memudahkan pengawasan terhadap daerah-daerah Banten yang tersebar luas seperti Lampung, Solebar, Bengkulu, dan lainnya, diangkatlah Penggawa-penggawa dan dalam waktu tertentu diharuskan datang ke Banten dan berkumpul di Kediaman Mangkubumi di Kemuning di Sebrang sungai untuk melaporkan keadaan daerah masing- masing. Biasanya setelah itu para Pejabat Istana dibawa menghadap Sultan di Istana Surosowan untuk menerima petunjuk dan pesan-pesan untuk disampaikan kepada rakyat daerah masing-masing. Demikian pula pengaturan dan pelatihan angkatan perang diserahkan kepada Mangkubumi dan Pangeran Madura yang diserahi tugas mengatur dan mengawasi prajurit Banten. Ada pun senjata perang seperti senapan, meriam, keris, dan tombak sudah ada yang dapat dibuat sendiri, sedangkan senjata jenis lainnya dibeli dari Batavia dan negara lain. Rumah Senopati dan Penggawa ditempatkan sedemikian rupa, supaya mereka dapat lebih cepat mengontrol keadaan prajuritnya. Karena itu letaknya tidak terlalu jauh dari istana untuk mempermudah penyampaian instruksi dari Sultan apabila negara dalam keadaan darurat. Hal ini menunjukkan bahwa Sultan Ageng Tirtayasa adalah seorang ahli strategi perang yang dapat diandalkan. Ini sudah dibuktikan sewaktu masih menjabat putra mahkota. Beliau yang mengatur gerilya terhadap kedudukan Belanda di Batavia. Setelah beberapa lama, utusan Sultan Banten itu kembali dari Mekkah dengan membawa sepucuk surat dan tiga orang utusan Sharif Mekah yang bernama Sayid Ali, Abdunnabi, dan Haji Salim. Dari Sharif Mekah itu pula Pangeran Surya mendapat gelar Abdul Fattah. Adapun Santri Betot yang membawa sejumlah besar hadiah dari Mekah kemudian diberi nama Haji Fattah, demikian juga tujuh orang yang mengiringinya. Guna lebih memantapkan pemerintahannya, Sultan mengadakan pembaharuan, antara lain dengan mengurangi kekuasaan Dewan Agung, yang merupakan penasihat dari para sultan sebelumnya. Semua keputusan pemerintah dilakukannya sendiri dan dibantu oleh para penasihat dekatnya saja. Di tahun 1674 demi meningkatkan keamanan, beliau memerintahkan agar para anggota Dewan Agung dipindahkan ke Istana Surasowan yang berada di dekat Pantai di Teluk Banten. Bila dipandang dari sudut politik, upaya tersebut menunjukkan kesiapan serta kematangannya untuk tidak bergantung kepada siapa pun, termasuk kepada para petinggi negara. Tindakannya yang dilaksanakan memperlihatkan pula bahwa kesultanan Banten sudah mampu mandiri, yang tentunya karena ditunjang oleh masalah ekonomi. Beliau juga membangun bendungan di atas sungai Pontang, agar air Sungai Ciujung dapat dialirkan ke kanal Tirtayasa. Selama itu pula dibangun pekerjaan irigasi di bagian barat Banten, memperbaiki irigasi sawah di daerah Anyer. Pada saat yang sama, Sultan Ageng memerintahkan penggalian kanal 3 km panjangnya di daerah Tirtayasa, dekat Tanara di mana sultan mendirikan istana. Di dekat lokasi proyek Tirtayasa, raja sepuh itu memutuskan untuk menggali lagi kanal baru. Sebanyak 2/3 populasi laki-laki dari ibukota mengikuti operasi dan adanya larangan 1/3 penduduk meninggalkan kota untuk alasan keamanan. Pekerjaan terbesar terakhir adalah membuat bendungan selama musim  kering di  sungai  Tanara  di  mana  keluarga  raja  dan  pembesar  kerajaan dapat bersenang- senang di air kanal Tirtayasa. Hasilnya membawa kemakmuran bagi rakyat serta dapat menambah penyimpanan bahan makanan yang sangat penting sebagai bahan perbekalan, jika terjadi perang. Selain untuk kebutuhan masyarakat hal itu pula merupakan bentuk politik dan strategi Sultan Ageng Tirtayasa dalam membuat saluran air, pembuatan persawahan mempunyai fungsi untuk menghimpun kekuatan dan sifat- sifat gotong royong hingga menjadi kekuatan yang tidak mudah kena hasutan dari pihak-pihak musuh.

Bidang Perdagangan.

Sebagai sebuah negara, Kesultanan Banten memiliki potensi geografis dan potensi alam yang membuat para pedagang Eropa hendak menguasai Banten. Secara geografis, Banten terletak di ujung Barat pulau Jawa, jalur perdagangan Nusantara yang merupakan bagian dari jalur perdagangan Asia dan Dunia. Selain itu, letaknya yang dekat dengan Selat Sunda menjadikan Banten sebagai pelabuhan transit sekaligus pintu masuk ke Nusantara. Selain itu juga Banten merupakan penghasil lada yang menjadikan Banten sebagai pusat perdagangan alternatif antar benua serta menjadi kota pelabuhan penting yang disinggahi oleh kapal-kapal dagang Cina, India dan Eropa.

Adapun Faktor yang mendukung berkembangnya Banten sebagai pusat Kerajaan Islam dan pusat perdagangan, adalah sebagai berikut:

  1. Banten terletak di pelabuhan Banten dan pelabuhan terlindungi oleh pulau panjang, sehingga baik sekali jadi
  2. Kedudukan Banten yang strategis di tepi Selat Sunda menjadikan daya tarik tersendiri untuk berlayar dan berdagang dari kalangan pedagang Islam dan pedagang Asing, selalu diramaikan sejak Portugis berkuasa di
  3. Banten telah memiliki bahan ekspor yang begitu penting yakni lada, sehingga menjadi daya tarik yang kuat bagi pedagang-pedagang asing seperti dari Gujarat, Persia, Cina, Turki, Pegu (Burma atau Myanmar), Keling, Portugis dan lain-lain.
  4. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis mendorong pedagang-pedagang mencari jalan baru melalui selat Sunda sehingga kemudian Banten dijadikan sebagai salah satu pusat perdagangan di Jawa Barat di samping Cirebon.

Adapun usaha Sultan Ageng Tirtayasa dalam membangun ekonomi Banten dalam bidang perdagangan terdiri dari:

  • Sistem Perdagangan Bebas

Perdagangan bebas adalah suatu sistem di mana barang, arus modal, dan tenaga kerja secara bebas antara negara-negara, tanpa hambatan yang bisa menghambat proses perdagangan. Banyak negara memiliki perjanjian perdagangan bebas, dan beberapa organisasi internasional mendorong perdagangan bebas antara anggota mereka. Berdasarkan letak geografis, Banten merupakan daerah yang sangat strategis bagi para pedagang dalam dan luar negeri di mana rempah-rempah yang merupakan hasil daerah tersebut menjadi komoditas penting, terdapat para pedagang dari daerah Indonesia, yaitu Maluku, Solor, Makasar, Sumbawa, Jaratan, Gresik, Juwana dan Sumatra. Selain itu, pelabuhan Banten juga banyak dikunjungi kapal dan pedagang asing, antara lain dari Arab, Cina, Persia, Suriah, India, Turki, Jepang, Filipina, dan Eropa (Portugis, Inggris, Belanda, Prancis, Denmark,) Kedatangan golongan pedagang baik untuk tinggal sementara maupun menetap sangat diharapkan oleh golongan ningrat, karena menambah pemasukan penghasilan di kesultanan Banten.

Sistem perdagangan bebas diyakini sebagai salah satu daya tarik tersendiri bagi para pedagang asing yang terdiri dari berbagai kelas untuk melakukan kerjasama dalam aktivitas perdagangan di Banten. Selain itu, di Banten beredar juga uang Banten, Belanda, dan Inggris. Disamping menggunakan mata uang, para pedagang juga masih menggunakan sistem barter (tukar barang) untuk mendapatkan lada dari Banten. Bagi Kerajaan- kerajaan maritim, pelabuhan merupakan sumber penghasilan yang amat penting bagi kerajaan, terutama penerapan bea cukai dan pajak yang menjadi sumber utama devisa kerajaan. Hal ini menunjukkan bahwa perdagangan di Banten cukup dinamis, sementara VOC dengan sistem monopolinya harus berjuang menyaingi Banten yang semakin kuat baik dari aspek perekonomian, politik, dan angkatan perangnya.

  • Mengembangkan Pelayaran dan Perdagangan

Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, pelayaran dan perdagangan Banten lebih dikembangkan. Salah satu usaha terbesar dari Sultan Ageng Tirtayasa ialah memajukan pelayaran dan perdagangan yang menempatkan Banten sebagai negara yang merdeka lepas dari pengaruh politik dan ekonomi kolonial Belanda dan bangsa-bangsa asing lainnya. Pelayaran di Banten mengalami kemajuan melebihi masa sebelumnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila orang Eropa berkepentingan untuk menanamkan saham dalam aktivitas ekonomi perdagangan sehingga pelayaran dan perdagangannya tetap dipertahankan dan juga kekuasaannya mendapat dukungan dari bangsawan-bangsawan dan sultan Banten.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada dua usaha penting Sultan Ageng Tirtayasa dalam membangun ekonomi Banten, yaitu: Sektor Perdagangan yang meliputi;

  • Sistem Perdagangan Bebas.

Dengan sistem ini Sultan Ageng Tirtayasa membuka kerja sama dengan berbagai Kerajaan di Nusantara maupun dengan negara-negara di luar Nusantara. Adapun beberapa Kerajaan atau negara yang bekerja sama dengan Kesultanan Banten di antaranya; Kerajaan Cirebon, Kerajaan Palembang, Kerajaan Trunojoyo, China, India, Inggris, Prancis, Denmark, Portugis dan lain sebagainya.

  • Pelayaran.

Dengan sistem ini Sultan Ageng Tirtayasa dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian atau perkebunan yang diperoleh dari berbagai wilayah di Nusantara, seperti lada, pala, cengkih, beras dan lain sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *